Kharisma Hidup Jesuit dalam Formula Instituti
Satu atau dua langkah di depan tempatku berkontemplasi atau bermeditasi, aku berdiri selama satu doa Bapa Kami. Jiwa kuarahkan ke atas, menimbang-nimbang bagaimana Allah Tuhan kita melihat aku, dst; dan membuat laku penghormatan atau perendahan diri (LR. 75).
… Allah juga tinggal dalam aku (LR. 235).
Doa Persiapan
Tuhan Allah kami, aku memohon rahmat-Mu agar semua niat, tindakan, dan pekerjaanku dapat diarahkan secara tulus untuk melayani dan memuji Keagungan Ilahi-Mu (LR. 46).
Bahan
Membaca ulang Formula Instituti Serikat Jesus dan menemukan di dalamnya identitas dan kharisma hidup sebagai Jesuit.
Compositio Loci
Aku membayangkan dalam imajinasi (LR 47) para Jesuit Pertama (Primi Patres) saat mereka berdeliberasi di Roma tahun 1539, menyusun Formula Instituti, dokumen pendirian Serikat dan menyerahkannya kepada Paus.
Rahmat yang dimohon
Mohon pengertian yang mendalam akan Formula Instituti sehingga aku dapat semakin menghidupi identitas sebagai Jesuit dan menjelmakan kharisma Serikat Jesus secara lebih autentik.
Puncta
Luangkanlah waktu hari ini untuk membaca kembali (lectio divina) Formula Instituti Serikat Jesus (1540 dan 1550), yang dapat dibaca pada lampiran. Selanjutnya, di mana memperoleh apa yang kukehendaki, aku akan tinggal tenang tanpa gelisah ingin melanjutkan lebih jauh lagi, sampai aku merasa puas (LR. 76).
Kata atau kalimat-kalimat dan pokok-pokok mana yang paling menyentuh, meneguhkan, atau inspiratif untuk kujadikan semangat dalam hidup perutusanku sebagai Jesuit saat ini?
Colloquy
Percakapan dilakukan dengan wawancara sewajarnya, seperti seorang sahabat dengan sahabat atau seorang abdi dengan tuan. Ada kalanya memohon rahmat, ada kalanya mempersalahkan diri atas sesuatu perbuatan yang tidak baik lain kali memberitahukan soal-soalnya dan meminta nasihat atas hal-hal itu. Diakhiri dengan doa Bapa Kami satu kali (LR. 54).
Refleksi
Setiap kali latihan selesai, selama seperempat jam, entah dengan duduk entah sambil berjalan-jalan, aku akan memeriksa, bagaimana berlangsungnya kontemplasi atau meditasi tadi.
Jikalau buruk, akan kuperiksa sebab-sebabnya mengapa begitu, dan setelah kudapat, aku akan menyesalinya, untuk selanjutnya memperbaiki diri. Jikalau baik, aku akan berterima kasih kepada Allah Tuhan kita, dan lain kali akan kulakukan secara demikian juga. (LR. 77)






